Komisi C DPRD Kota Payakumbuh melakukan kunjungan lapangan ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) untuk meninjau kondisi dan kinerja sistem pengelolaan limbah pada Senin, (10/02/2025).
Kunjungan ini dipimpin oleh Ketua Komisi C Fitrayanto bersama Ketua DPRD Kota Payakumbuh Wirman Putra, didampingi Wakil Ketua Komisi C Febriadi, serta anggota H. Dahler, Mesrawati, dan Mardion Fernandes. Sekretaris DPRD beserta jajaran turut hadir dalam rombongan.
Marta Minanda selaku Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman menjelaskan, bahwa sistem septik tank dengan pipa yang telah ada sejak 1997 namun belum berfungsi optimal. Sistem yang dijalankan oleh IPLT ini masih menggunakan metode sederhana, dan pada tahun 2017 telah diajukan usulan ke Pemerintah Daerah untuk perencanaan dan perancangan yang lebih baik.
“Kapasitas sekarang sudah tidak memenuhi untuk layanan sedot tinja masyarakat kita. Ditahun ini kita mengalokasikan dana kita untuk peningkatan kapasitas dari 15 meter kubik menjadi 30 meter kubik,” ujar Marta Minanda
Marta juga menyebut permasalahan utama yang dihadapi adalah keterbatasan dana untuk meningkatkan kapasitas IPLT. Meskipun mekanisme pengolahan masih bisa dilakukan di lokasi saat ini, dikhawatirkan kapasitasnya tidak akan mencukupi jika volume limbah terus meningkat. Salah satu aspek yang dinilai layak dari sistem ini adalah rumah tangga tidak membuang limbah sembarangan, sementara keamanannya cukup terjaga karena sistemnya kedap.
“Harapan ke depannya sebagai pemeliharaan lingkungan agar tidak tercemar limbah tinja yang ada di rumah masyarakat dan diharapkan septic tank rumah masyarakat agar dapat memenuhi standart sehingga limbah tersebut tidak mencemari tapi melakukan pengolahan di IPLT ini,” ujarnya.
Selain itu, IPLT juga mengoperasikan mobil toilet yang dilengkapi dengan tangki air dan alat penyedot limbah, biasanya digunakan dalam acara masyarakat atau pawai. Sistem ini telah menarik perhatian banyak daerah lain, seperti Bengkulu dan Pekanbaru, yang melakukan kunjungan untuk mempelajari mekanisme yang diterapkan.
Beberapa daerah di Indonesia, seperti Depok dan Bogor, dianggap memiliki IPLT terbaik. Sementara itu, daerah seperti Gresik dan Lamongan juga memiliki sistem yang dapat menjadi referensi. Pupuk hasil pengolahan limbah diadopsi dari Lamongan, namun karena perbedaan pola konsumsi antara daerah Lamongan dan Payakumbuh, pupuk ini masih direkomendasikan hanya untuk tanaman hias dan belum digunakan untuk tanaman pangan seperti tomat dan cabai.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua Komisi C Fitrayanto menyampaikan “IPLT ini juga cukup bagus tinggal bagaimana kita mengembangkan ke depannya, baik dari segi fasilitas maupun segi teknologi. Sehingga IPLT ini bermanfaat lebih untuk masyarakat,” dalam meningkatkan kapasitas IPLT dan memperbaiki sistem pengelolaan limbah agar lebih efisien serta berkelanjutan.
“Kedepannya kita akan mendorong sistem sekarang yang masih konvensional mendorong supaya kita nanti bisa mengubah ke sistem yang lebih efesien dalam pengerjaannya,” lanjutnya.
